Beban Ganda dan Komodifikasi Perempuan dalam Kapitalisme

 “I got a condo in Manhattan. Baby girl, what’s hatnin? You and your ass invited. So gon’ and get to clappin’. So pop it for a pimp. Pop, pop it for me…. Jump in the Cadillac, girl, let’s put some miles on it. Anything you want, just to put a smile on it….. Gold jewelry shinning so bright… strawberry champagne on ice…… Lucky for you, that’s what I like.” [1](Bruno Mars, That’s What I Like)

Potongan lirik lagu di atas dinyanyikan oleh penyanyi internasional, Bruno Mars. Lagu tersebut mendapatkan penghargaan Grammy Awards 2018 kategori “lagu terbaik”. Di balik keberhasilan awardnya, ada pelanggengan nilai-nilai marginalisasi terhadap perempuan. Kandungan kata dalam liriknya merepresentasikan bentuk seksisme yang menggambarkan tubuh perempuan sebagai komoditi untuk dinikmati dan dikomerialisasikan.

Dalam lirik lagu That’s What I Like itu, laki-laki dikonstruksi memiliki kedudukan ekonomi lebih kuat sehingga dapat membeli atau menukar tubuh perempuan dengan perhiasan, berlian, atau barang-barang mewah lainnya (baca: komodifikasi). Sementara itu, penghargaan Grammy Awards terhadap lagu tersebut secara nyata menunjukan adanya dukungan terhadap proses komodifikasi perempuan untuk tujuan akumulasi kapital bagi perusahaan rekaman, penyanyi, dan semua yang terlibat dalam industri musik. Kondisi tersebut bertambah ironi ketika banyak orang yang dengan bangga mendengarkan dan menyanyikan lagu That’s What I Like, seolah tidak ada rasa kemanusiaan yang tercabik-cabik di sekitar mereka.

Reproduksi Sosial Perempuan dalam Sistem Kapitalisme

Kemunculan marginalisasi berbasis gender yang menjadikan perempuan sebagai subjek, berupaya dianalisis dengan menggunakan teori serta perspektif yang beragam. Pandangan feminisme radikal melihat akar marginalisasi terhadap perempuan disebabkan oleh masalah seksualitas biologis yang bersifat alami[2]. Bagi mereka kemunculan budaya patriarki disebabkan karena yang memiliki kemampuan untuk mengandung dan melahirkan hanya perempuan, maka mereka ditempatkan dalam proses pekerjaan domestik. Pandangan feminisme marxis menjelaskan bahwa penindasan terhadap perempuan bukan akibat dari perbedaan biologis laki-laki dan perempuan. Marginalisasi perempuan terbentuk karena modus produksi dari sisten ekonomi yang berlaku yang kemudian menundukan peran perempuan dan pada perkembangannya hal itu menghegemoni hingga sekarang (materialisme historis)[3].

Friedrich Engels dalam bukunya The Origin Family Private, Proverty and the State menyebutkan bahwa analisis marxis berakar dari sejarah marginalisasi perempuan terletak di dalam masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas sosial tertentu. Lebih spesifik lagi, marginalisasi hari ini turut dilanggengkan dalam perkembangan kapitalisme.[4] Pandangan ini berarti menolak pandangan feminisme radikal bahwa penindasan berasal dari perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Pandangan feminisme radikal ini cenderung ahistoris. Artinya ketidakadilan terhadap perempuan ini lebih berupa suatu dampak dari struktur ekonomi dan budaya yang dipelihara serta dilestarikan, bukan sesuatu yang alamiah.

Engels[5] menjelaskan tahap-tahap evolusi manusia yang membentuk kelas-kelas sosial yang turut memunculkan pembagian kerja: Tahap I, tidak terdapat penikahan sama sekali sehingga yang ada adalah hubungan seksual. Tahap II, mulai mengenal adanya tempat tinggal. Dalam tahap ini kedudukan perempuan lebih tinggi karena dipandang sebagai objek yang mampu memproduksi alat-alat Rumah Tangga. Masyarakat menganut sistem matrilineal (kekerabatan yang dibentuk oleh garis perempuan) dan matriarki (perempuan sebagai pemegang kekuasaan ekonomi dan politik). Tahap III, mulai ada kegiatan berburu dan meramu. Pada tahapan ini pembagian kerja mulai terbentuk dan ada penghapusan sistem matrilineal. Para lelaki pergi berburu, sementara perempuan meramu di temat tiggalnya. Hal ini merupakan bentuk dari pembagian kerja yang setara dan adanya posisi yang imbang antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi dalam perkembangannya, ketika ada hak kepemilikan pribadi, maka muncul kelas-kelas sosial. Sehingga pembagian kerja yang setara, kemudian tidak terjadi. Kerja berburu & bertani menjadi lebih produktif dibanding kerja domestik dari para perempuan (yang pada saat itu meramu). Ini yang menjadi asal muasal marginalisasi.

Marx berpendapat bahwa hubungan antara manusia ditentukan oleh produktivitas. Oleh karena itu, penindasan, marginalisasi, dan segala bentuk kedudukan yang tidak sejajar antara perempuan dan laki-laki dapat dilacak secara historis. Argumen ini diperkuat oleh Engels yang merefleksikannya pada implikasi dari sejarah revolusi industri.  Sejak kemunculan dan penggunaan mesin-mesin pada pabrik tekstil, ini berarti ada peralihan tenaga kerja manusia ke mesin yang tidak memerlukan banyak tenaga, sehingga ada peralihan tenaga kerja laki-laki ke perempuan. Hal ini dikarenakan perempuan dianggap memiliki kekuatan fisik yang lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki.

Tenaga kerja manusia digunakan untuk mengoperasikan mesin pabrik tekstil tidak lagi memerlukan kekuatan otot, namun hanya kelenturan jari sehingga tenaga kerja laki-laki digantikan oleh perempuan dan anak. Namun upah bagi tenaga kerja pengganti ini lebih murah. Usia gadis dari enam belas dua puluh tahun banyak bekerja di mesin tenun ini. Demikian pula untuk pengepakan dan sedikit sekali laki-laki dewasa[6]

Kondisi tersebut membuat perempuan makin menjadi objek komodifikasi para pemilik modal. Posisinya semakin tersubordinat manakala mereka diberikan upah yang rendah dibanding dengan laki-laki dan harus mendapat beban ganda ketika harus mengurusi pekerjaan rumah tangga. Hal tersebut ironi karena para buruh perempuan juga memiliki peran yang sama dalam hal produksi.

Tidak Semua Perempuan Termarginalisasi

Menurut Linda Sudiono (Dosen Universitas Atmajaya) dalam diskusi MAP Corner-Klub MKP Fisipol UGM Tanggal 6 Maret 2018 menjelaskan bahwa budaya patriarki dan kapitalisme kaitannya dalam marginalisasi perempuan tidak bisa disamakan. Menurutnya tidak semua perempuan termarginalisasi dalam sistem kapitalisme sekarang. Kondisi itu membuat teori patriarki tidak lagi relevan dalam menjelaskan realita sosial berbasis gender sekarang ini.

Budaya patriarki yang menghasilkan marginalisasi terhadap perempuan nyatanya tidak terjadi terhadap perempuan borjuis[7]. Permasalahan perempuan dapat disebut sebagai marginalisasi jika berkaitan dengan kapasitas dirinya sebagai tenaga kerja (labour power) yang dieksploitasi oleh pemilik modal atau dalam relasi keluarga.[8] Perempuan borjuis memiliki masalah yang berbeda dengan perempuan proletar atau kelas pekerja[9]. Para perempuan borjuis memiliki segala akses yang tidak dimiliki oleh perempuan-perempuan kelas pekerja baik dalam hal kepemilikan properti, ekonomi, kesempatan berpolitik, serta kesetaraan dengan laki-laki. Sehingga sewaktu-waktu mereka justru dapat mengeksploitasi perempuan kelas pekerja.

Perempuan kelas pekerja juga mengalami beban ganda (double burden) dalam relasi kerja kapitalisme. Selain harus bekerja untuk mendapatkan upah, perempuan juga bekerja sebagai ibu atau istri untuk melakukan pekerjaan domestik (menyuci, mamasak, bersih-bersih, dll) di keluarga mereka. Beban ganda tersebut juga meliputi fungsi reproduksinya terhadap tenaga kerja (kerja kongrit), dan menjadi bagian dari tenaga kerja itu sendiri (kerja abstrak).[10] Dalam relasi yang timpang itu, perempuan berperan mencetak buruh-buruh baru. Melalui kerja domestik, para suami dapat terurus, menjadi sehat, dan mampu bekerja dengan optimal pada keesokan harinya di pusaran kapitalisme. Begitu pula peran reproduksinya dalam melahirkan anak yang kemudian ia besarkan, hingga menjadi dewasa dan menjadi buruh. Sementara ketika ekonomi keluarga terhimpit, mereka turut menjual tenaga-kerjanya.

Kondisi Perempuan Kelas Pekerja di Indonesia

Ruth Indiah Rahayu, seorang peneliti di Inkrispena dan penulis Indoprogress dalam diskusi MAP Corner-Klub MKP (06/03/2018) menjelaskan bahwa kebijakan delapan jam kerja yang saat ini dinikmati buruh, merupakan bentuk hasil dari gerakan perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan kelas pekerja sama-sama memiliki andil yang berarti untuk melakukan perjuangan dan perlawanan untuk terciptanya keadilan.

Di Indonesia, gerakan perempuan kini mulai menggeliat setelah sebelumnya terjadi pemberangusan gerakan perempuan paska peristiwa September 1965[11]. Berbagai cerita perlawanan perempuan kelas pekerja telah terjadi di berbagai tempat, baik di ladang pertanian dan di pabrik-pabrik. Seperti di sebuah perusahaan produksi tekstil di Jakarta, PT Grifone Milria Indonesia yang merupakan pabrik berbasis garmen, dalam sejarahnya pernah mengalami dampak dari aksi pemogokan buruhnya yang 99% adalah perempuan. Menurut Ni’mah dalam buku “Buruh Menuliskan Perlawanannya”, aksi tersebut karena kebijakan kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) yang ditetapkan pada 2002 tidak dipenuhi oleh perusahaan pada buruhnya. Upah yang saat itu seharusnya dibayarkan oleh perusahaan sebesar Rp. 591.226 hanya dibayar sebesar Rp. 500.266. Kondisi itu yang memicu berbagai kesadaran dan melalui serikat buruh, mereka melakukan perlawanan.

Kasus lain pada April 2018 adalah kecelakaan kerja seorang buruh magang atau Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) di PT Nanbu Plastic Indonesia (NPI) bernama Atika (23 Tahun). Jari tengahnya terpotong oleh mesin press pada Senin 26 September 2016 ketika ia tengah bekerja lembur selama 12 jam tanpa henti. Parahnya lagi, akibat ia hanya berstatus sebagai buruh PKWT, kejelasan jaminan ketenagakerjaannya tidak ada. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang merupakan sebuah badan layanan publik pemerintah pun tidak mampu untuk memberikan layanan asuransinya akibat status Atika. Pasca 2 tahun kejadian, sebagai bentuk solidaritas baik perempuan maupun laki-laki yang menjadi anggota Serikat Buruh Bumi Manusia bersuara, akan tetapi hasilnya justru membuat ironi karena sebanyak 61 orang tersebut di PHK, termasuk Atika.

Kondisi perempuan kelas pekerja di Indonesia cukup kompleks apalagi setelah diterapkannya kebijakan pasar kerja fleksibel (mekanisme kerja kontrak dan outsourcing) dan PP Pengupahan no.78 tahun 2015. Dikarenakan ada tuntutan tata nilai untuk melakukan kerja ganda, produk kebijakan tersebut semakin menciptakan ketidakpastian kerja.

Bentuk-bentuk marginalisasi yang dialami oleh perempuan bukan suatu kondisi alamiah, melainkan kondisi sosial yang terbentuk dari proses panjang sejarah peradaban manusia.

Penutup

Bentuk-bentuk marginalisasi yang dialami oleh perempuan bukan suatu kondisi alamiah, melainkan kondisi sosial yang terbentuk dari proses panjang sejarah peradaban manusia. Dalam pandangan feminisme marxis, marginalisasi tersebut berakar pada terbentuknya kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Budaya patriarki yang merepresentasikan dominasi laku-laki terhadap perempuan nyatanya tidak terjadi pada perempuan dari kelas atas. Mereka tidak mengalami marginalisasi akibat dari relasi kuasa laki-laki atas perempuan. Perempuan dengan kepemilikan modal, akses kekuasaan, pendidikan tinggi, justru dapat mengeksploitasi perempuan kelas pekerja yang sama jenis kelaminnya.

Marginalisasi terhadap perempuan kelas pekerja bersifat ganda. Dalam budaya yang berkembang sekarang mereka dituntut untuk melakukan kerja domestik. Di sisi yang lain ketika kondisi ekonomi keluarga goncang, mereka harus menjual tenaga kerjanya untuk mendapatkan upah. Para kapitalis memanfaatkan kondisi ini untuk tujuan akumulasi kapital, salah satunya dengan tidak memenuhi hak-hak mendasar perempuan pekerja (seperti upah yang lebih rendah, cuti haid, cuti hamil, dll). Marginalisasi perempuan turut dilakukan dengan cara mengkomodifikasi mereka. Kita dapat melihat bagaiamana perempuan di tempatkan seperti barang yang dapat diperjual belikan dan adanya konstruksi tentang kecantikan sehingga menggenjot penjualan produk kosmetik dan pakaian. Mereka juga rentan mengalami kekerasan akibat adanya pandangan yang diskriminatif.

Dalam sejarahnya, pencapaian perbaikan kehidupan kelas pekerja dapat terwujud ketika ada gerakan perlawanan. Kelas penguasa tidak mungkin memberikan keadilan dengan kebaikan hati mereka. Tapi perlu ada tekanan melalui proses perjuangan. Marginalisasi terhadap perempuan sangat penting untuk dihapuskan, karena tidak memanusiakan manusia. Marginalisasi hanya dapat dihapuskan ketika perempuan tidak begerak sendiri-sendiri, tapi bersama-sama dengan lelaki untuk memperjuangkan emansipasi dan keadilan bagi kelas pekerja.

 

[1] Terjemahan: Aku punya kamar apartemen di Manhattan. Gadisku, apa yang terjadi? Kau dan pinggulmu diundang. Jadi, pergi dan dapatkan tepukan. Jadi singgahlah untuk germo, singgahlah untukku. Loncatlah ke mobil Cadillac, nona, angkatlah beberapa mil. Apapun yang kau inginkan, hanya tersenyum. Perhiasan emas bersinar, Sampanye stroberi diatas es. Beruntung bagimu, itulah yang aku suka.

[2] Lihat: Willis, Ellen (1984). “Radical Feminism and Feminist Radicalism”. Social Text. 9/10: The 60’s without Apology: 91–118.

[3] Vogel, Lise. 2013. “A Decade of Debate”, in Vogel, Lise (ed.). Marxism and the Oppression of Women: Toward a Unitary Theory. Leiden, Holland: Brill.

[4] Engels, Frederich. 2010.  The Origin Family Private Proverty and the State. Online Version Internet Arcive (Marxist.org). https://www.marxists.org/archive/marx/works/download/pdf/origin_family.pdf. Diakses pada 18 April 2018. Pukul 18.21 WIB. Pg 1

[5] ibid.

[6] Engels, Frederich. 2014. Kondisi Kelas Pekerja Inggris (Embrio Sosialisme Ilmiah). Jogja: Pustaka Nusantara. Hlm. 59

[7] Sebutan ini adalah sebutan untuk orang-orang pemilik modal yang dapat mempekerjakan orang untuk memenuhi produksinya.

[8] Rahayu, Ruth Indiah Dimana Situs Penindasan Perempuan dalam Kapitalisme? Eksplorasi Marxisme dalam Reproduksi Tenaga Kerja. https://indoprogress.com/2017/03/dimana-situs-penindasan-perempuan-dalam-kapitalisme-eksplorasi-marxisme-dalam-reproduksi-tenaga-kerja/. Diskses Pada 14 April 2018. Pukul 22.27 WIB

[9] Sebutan untuk masyarakat yang tidak memiliki sarana produksi, sehingga hanya memiliki tenaga-kerja untuk dijual (menjadi komoditi) agar mendapat upah untuk bisa bertahan hidup.

[10] Woman and Capitalist Family: The Ties and Bind. https://www.marxists.org/history/etol/newspape/socialistvoice/womenPR34.html. Diakses Pada 21 April 2018. Pukul 16.19 WIB.

[11] Lihat: Saskia Eleonora Wieringa. 2010. Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Paska Kejatuhan PKI. Yogyakarta: Galang Press.

Leave a Reply