Masyarakat Adat dan Gerakan Sosial di Amerika Latin: Tarik-Ulur Kehendak Untuk Mengatur

Judul: Sang Pengoceh
Penulis: Mario Vargas Llosa
Penerbit: Penerbit OAK
Tahun Terbit: 2016
Penerjemah: Ronny Agustinus
Tebal: 374 Halaman

Para Profesor dan Dosen di Rapat Jurusan Etnologi[1] tetiba tercengang. Bagai pistol, Saul Zurantas, Mahasiswa di Universitas San Marcos – Peru, terus melontarkan peluru pernyataannya. Lelaki tinggi kurus bertompel besar di pipinya itu dengan penuh amarah berkata bahwa kerja para Etnolog adalah melanjutkan apa yang ditinggalkan para misionaris kolonial. Atas nama ilmu pengetahuan, layaknya mereka atas nama penginjilan, merupakan pelopor bagi ikhtiar melenyapkan masyarakat adat. Dengan alat-alat rekam dan bolpoin-bolpoin, para Etnolog diibaratkan ular yang menggerogot masuk ke dalam buah dan membusukannya (hal 45-46). Dia menyandingkan konsekuensi kerja Etnolog serupa aktivitas para penyadap karet, penebang pohon, perekrut tentara, serta orang-orang Mestizo[2] dan kulit putih lainnya yang membinasakan sebagian besar suku-suku di pedalaman Hutan Amazon.

Saul Zurantas atau juga dipanggil Mascarita (Si Tompel Besar) dalam novel “Sang Pengoceh” karya Si Kakek Penggerutu, Mario Vargas Llosa, menampilkan diri sebagai intelektual cum aktivis dengan perspektif puritan atau indegenis fanatik. Mascarita sejak kecil hidup dalam bayang-bayang ejekan dan kekerasan karena dua alasan, identitasnya sebagai keturunan Yahudi dan tompel besar di mukanya yang membuat orang jijik di dekat bahkan ketika melihatnya.

Hidup tereksklusi, menjadikan Mascarita memiliki kepekaan terhadap orang-orang yang terpinggirkan atau kaum marjinal. Mascarita tumbuh besar di tengah realitas arus modernitas dan kehendak untuk mengatur dari kaum agamawan, intelektual, dan penguasa terhadap masyarakat adat[3] (Indigenous Peoples) di Amerika Latin[4]. Masyarakat adat yang hidup dengan alam, salah satunya masyarakat Machiguenga, ditempatkan sebagai sekumpulan manusia yang tidak beradab, tidak berpendidikan (bodoh), tidak bertuhan, yang hidup tertinggal sehingga berbagai kalangan berupaya untuk mengatur mereka agar menjadi beradab dan modern. Kondisi itu yang membuat Mascarita mengkritik berbagai pihak dalam memperlakukan masyarakat adat dan menentang cara berpikir modernis.

Dalam review ini saya ingin menunjukan aliran pemikiran dalam kehendak untuk mengatur masyarakat adat di novel “Sang Pengoceh” yang mengambil latar cerita di tahun 1940-1960an. Selain itu berupaya mengaitkan “Sang Pengoceh” dengan kondisi objektif gerakan masyarakat adat di Amerika Latin paska perang dingin sampai sekarang.

Kesimpulan saya, Saul Zurantas atau Mascarita adalah seorang indigenis fanatik yang individualis dan gagal. Mascarita mengandaikan agensi untuk mencapai perubahan sosial dapat dilakukan secara sendirian. Dia mengabaikan dua hal penting: kolektifitas dalam gerakan sosial & struktur sosial yang memanifestasikan kehendak untuk mengatur. Itu mengapa Mascarita lebih nyaman menjadi Sang Pengoceh dibanding membangun gerakan yang muncul di Amerika Latin pada periode 1980an – sekarang.

Gambar: Masyarakat Adat Machiguenga di Sepanjang Sungan Amazon, Peru

*** *** ***

Mascarita mulai bersentuhan dengan masyarakat adat ketika pada tahun 1956 dia mulai belajar Etnologi dan melakukan beberapa perjalanan ke Hutan Amazon saat libur kuliah tiba. Mascarita sebenarnya adalah mahasiswa jurusan Hukum di Universitas San Marcos, tetapi dia tidak menyukai pelajaran tentang hukum positivisme. Dia menyukai ilmu Etnologi dan sering bolos kuliah untuk mendalaminya. Satu-satunya alasan Mascarita masuk jurusan Hukum adalah hanya untuk menyenangkan hati Don Salomon, ayahnya yang mendambakan anaknya menjadi seorang Pengacara atau Hakim (hlm. 13).

Setelah lulus kuliah, Mascarita ditawari beasiswa oleh Marcos Mar (Ketua Jurusan Etnologi di Universitas San Marcos) untuk melanjutkan kuliah di Perancis dengan mengambil konsentrasi pada ilmu Etnologi. Beasiswa ini adalah beasiswa yang begitu diperebutkan dan didambakan oleh hampir selurus mahasiswa di Universitas terkenal di Peru itu. Mascarita yang memiliki dedikasi tinggi dalam mempelajari etnologi, cukup beruntung mendapat tawaran tersebut. Namun, dia justru menolaknya. Baginya, semakin mempelajari Etnologi, semakin dia mengetahui bahwa ilmu ini telah digunakan oleh para Etnolog untuk menghancurkan masyarakat adat dari dalam.

Dalam Novel “Sang Pengoceh”, ada empat macam aliran pemikiran yang bersilang pendapat tentang bagaimana menempatkan dan mengatur keberadaan masyarakat adat dalam konfigurasi negara. Kaum modernis menilai bahwa masyarakat adat adalah kelompok yang tradisional, tidak beradab, tidak berpendidikan, dan tertinggal. Sehingga mereka berupaya mengatur agar cara hidup masyarakat adat agar bisa seperti gaya hidup modern mereka. Sedangkan kelompok agamawan (misonaris kolonial) juga berpandangan serupa, tapi bagi mereka cara membebaskannya adalah dengan membuat masyarakat adat mengerti dan mengimani tuhan sebagaimana mereka. Langkah tersebut dipahami akan memberadabkan dan membuat mereka bermoral.

Sementara bagi Institute Linguistik, cara membuat masyarakat adat berdaya adalah dengan mempelajari bahasa dan keseharian mereka. Dengan cara itu dunia luar akan mengetahui keberadaan dan bahasa mereka. Namun Institute Linguistik dikritik oleh para sosialis karena mereka menjadi kepanjangan tangan imperialisme. Di balik penelitian ilmiah, mereka sedang menjalankan tugas intelejen dan memulai langkah pertama penetrasi neokolonialis atas budaya suku-suku adat di Amazon. Bagi para antropolog, Institute Linguistik telah menyelewengkan budaya orang-orang pribumi, berupaya membaratkan mereka, dan berupaya menarik mereka dalam ekonomi kapitalistik (hlm. 104-105).

Mascarita menolak dua cara pandang di atas yang menempatkan masyarakat adat hanya sebatas sebagai objek. “Sekarang kita tahu kekejaman macam apa yang dihadirkan oleh kemajuan, yang mencoba memodernisasi orang primitif. Sederhananya, kemajuan itu menghabisi mereka semua” ujar Mascarita (hlm. 117). Apa yang mereka lakukan bagi Mascarita adalah untuk menyapu bersih budaya, dewa-dewa, institusi-institusi sosial, dan untuk menggerogoti cita-cita masyarakat adat. Pada akhirnya, menurut Mascarita, orang-orang yang hidup bersama alam itu akan menjadi tenaga kerja murah dan dirampas ruang hidupnya setelah arus modernisme datang.

Bagi Mascarita, solusi yang dapat diterapkan adalah dengan cara menjaga kemurnian masyarakat adat. Selain itu bahwa:

“budaya-budaya ini mesti dihormati… dan satu-satunya cara untuk menghormati mereka adalah tidak pergi mendekati mereka. Tidak menyentuh mereka. Budaya kita terlalu kuat, terlampau agresif. Ia mampu melahap apapun yang disentuhnya. Mereka harus dibiarkan sendiri. Belum cukupkah mereka menunjukan bahwa mereka berhak untuk terus menjadi seperti apa adanya mereka?” (hlm. 148).

Perspektif lain ditunjukan oleh Matos Mar dan sosok “Aku” (orang pertama dalam Novel). Mereka memiliki pandangan sebagai intelektual sosialis. Bagi mereka permasalahan masyarakat adat ini adalah bagian dari permasalahan umum yang dihasilkan oleh struktur kelas sosial yang timpang. Mereka menolak cara pandang dari Institute Linguistik, modernisme, dan juga perspektif yang diimani oleh Mascarita.

Sistem ekonomi sosialis yang bertopang pada politik redistributif dan ekonomi kolektif mereka yakini akan menjadi cara pengaturan yang tepat.

Dengan mengganti obsesi teruntuk laba ekonomi –keuntungan pribadi- dengan gagasan pengabdian pada komunitas sebagai insentif kerja, serta memperkenalkan sikap solidaritas dan kemanusiaan ke dalam relasi sosial sosialisme, akan memungkinkan koeksistensian antara Peru modern dan Peru primitif… Dalam Peru yang baru, dibekali dengan tata pengetahuan Marx & Mariategui, suku-suku Amazon akan mampu secara bersamaan, mengadopsi cara-cara modern serta melestarikan tradisi dan adat hakiki mereka dalam mozaik kebudayaan yang akan menyusun peradaban masa depan Peru” (hlm. 115).

Kehendak untuk mengatur dari empat cara pandang di atas saling menegasikan. Hal ini menjadikan novel “Sang Pengoceh” ini cukup menarik karena menggambarkan bagaimana empat cara pandang ini bertemu dan diperdebatkan. Setelah membedah isi novel, saya akan menjabarkan kondisi objektif gerakahan masyarakat adat di Amerika Latin.

*** *** ***

Pada 01 Januari 1994, sekitar 3.000 Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN), sebuah gerakan petani adat di Chiapas Meksiko melancarkan pemberontakan. Mereka melakukan pemberontakan tepat saat diberlakukan Zona Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) antara Amerika, Kanada, dan Meksiko. Gerakan Zapatista memperjuangkan otonomi khusus untuk mengatur adat mereka sendiri, dikarenakan sistem ekonomi neoliberalisme telah begitu dalam merugikan mereka (Vergara-Camus, 2014).

Di Bolivia, “Gerakan Menuju Sosialisme” (MAS), partai yang digawangi oleh masyarakat adat, pada tahun 2005 mengantarkan Evo Morales (tokoh gerakan adat baru) menang dalam pemilu presiden. Di Ekuador, Partai MUPP, selalu mendapatkan kursi signifikan di parlemen sejak 1996 dan pada tahun 2002 mengantarkan Lucio Gutierrez sebagai presiden (Breton, 2013). Kemenangan demi kemenangan yang ditorehkan oleh gerakan masyarakat adat juga terjadi di Peru, Chile, Elsavador, Guatemala, dan negara lainnya.

Berbagai kalangan sebelumnya tidak pernah menduga bahwa gerakan masyarakat adat atau “penduduk asli” ini telah mampu menjadi kekuatan politik baru. Gerakan adat kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia seperti Indonesia. Mereka bergerak baik secara sendiri atau bersama, membangun aliansi lintas wilayah atau lintas negara, mengikuti proses-proses politik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional untuk memperjuangkan isu utama tentang keberlangsungan hidup.

Sejarah masyarakat adat di Amerika Latin adalah sejarah yang cukup kelam. Burkholder dan Johnson (2004) menunjukan sejarah penaklukan dan eksploitasi masyarakat adat yang mulai dilakukan sejak kolonialisme bangsa Spanyol dan Portugis pada abad ke-15 dan 16. Proses itu membawa penderitaan dan bencana kemanusiaan. Di Peru pada tahun 1570 jumlah penduduknya 1,3 juta jiwa, menjadi 600 ribu jiwa pada tahun 1620 (setelah 50 tahun). Hanya selama 50 tahun, hampir separuh lebih penduduk Peru meninggal.

Saat sebagian besar wilayah Amerika Latin mendapatkan kemerdekaan di awal abad ke-19, tidak lantas struktur ekonomi kolonial yang timpang dan predatoris menjadi turut lenyap. Para elit yang menjadi bagian dari enclave okolonial tetap menguasai struktur ekonomi dan mengendalikan politik. Xavier Albo ([2008], dalam Subono, 2017) menyebutnya sebagai “Republik Neo-Kolonial”. Itu karena negara-negara Amerika Latin memang merdeka secara politik, akan tetapi tidak pada sektor ekonomi. Kondisi ketidakadilan terhadap masyarakat marginal ditunjukan pula dalam Novel “Sang Pengoceh”. Baik itu adanya ketidakadilan dalam proses perdagangan, penyingkiran masyarakat adat dari ruang hidupnya karena adanya proyek pembangunan, dan tentang penghancuran tata nilai adat dari dalam.

Pada tahun 1980an, sistem ekonomi neoliberal mulai diterapkan hampir di semua negara Amerika Latin. Susunan kebijakan liberalisasi di pasar tanah, perburuhan dan pasar modal, serta pembukaan ekonomi ke pasar, menyebabkan boom ekspor komoditas. Hal ini pada gilirannya memicu proses baru konsentrasi tanah dan dalam beberapa kasus ‘perampasan tanah’ (Kay, 2015). Kebijakan neoliberal dari pemerintah yang ditopang oleh ekspor komoditas (terutama pertambangan, pertanian, kehutanan, dan perikanan), telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup parah dan ancaman terhadap keberlangsungan hidup masyarakat adat (Veltmeyer dan Petras, 2014).

Tekanan dan himpitan terhadap keberlangsungan hidup masyarakat adat disebabkan oleh predatory state dengan mantra ekonomi neoliberal. Kondisi itu yang membuat gerakan masyarakat adat pada tahun 1980an sampai sekarang menggunakan dua strategi. Pertama gerakan politik jalanan (non-elektoral) seperti demonstrasi, blokade, petisi, dan aksi massa ang lain untuk menekan pemerintah dari luar. Kedua, melalui jalur elektoral (mengikuti proses Pemilu) baik ditingkat lokal hingga nasional untuk merebut kekuasaan dan menjalankannya dari dalam.

Gambar: Protes dari masyarakat adat dalam menentang eksploitasi Sumber Daya Alam yang dilakukan di sepanjang Sungan Amazon – Peru (Sumber: Climate Change News)

*** *** ***

Metode perlawanan dan gerakan sosial di atas belum dibayangkan oleh sosok Mascarita atau Matos Mar dan “Aku” dalam novel “Sang Pengoceh”. Mascarita yang berpandangan indigenis fanatik puritan, menilai bahwa relasi sosial dalam masyarakat adat itu secara alamiah semuanya bersifat manusiawi dan egaliter. Pada kenyataannya ada berbagai budaya yang tidak manusiawi seperti tradisi menguburkan bayi hidup-hidup ketika bayi itu mengalami cacat; bunuh diri ketika terkena penyakit flu karena dinilai itu sebagai kutukan; perbudakan terhadap anggota suku lain; merobek perut seorang ibu hamil saat dirasa jabang bayi sudah mau keluar; dan tradisi yang lain.

Di sisi yang lain, dalam komunitas adat juga terjadi struktur ekonomi yang timpang antara kelas atas yang superior, dengan kelas bawah yang inferior. Ekonomi yang mereka jalankan juga beragam, tidak bersifat subsisten sebagaimana mitos yang sampai saat ini terus berkembang. Sedangkan anggapan lain, (yang juga banyak dipercayai oleh para aktivis) bahwa adat adalah sebuah proses yang demokratis dan bentuk murni proses egaliter yang tidak direkayasa, pada kenyataannya, praktek adat seringkali mempunyai akar feodal, patriarkis, memaksakan sistem kasta, & meretui perbudakan (D’Andrea, 2013: 53).

Dengan idealismenya, Mascarita akhirnya memilih menjadi “Sang Pengoceh” di masyarakat adat Machiguenga. Dia menjadi bagian dari masyarakat adat Machiguenga dengan mengikuti cara berpenampilan dan pola kehidupan sehari-hari. Cita-citanya agar ruang hidup, kebudayaan dan tata nilai serta norma sosial masyarakat adat di Amazon tidak dijamah oleh arus kapitalisme, maka wilayah hutan Amazon harus dibiarkan dan tidak boleh ada selain orang adat yang masuk ke dalamnya. Kemurnian adat baginya harus tetap dijaga.

Akan tetapi ada jarak antara niat, harapan, dan metode perjuangan yang dilakukan oleh Mascarita. Niat baik saja tidak cukup, perlu pembacaan yang tuntas terhadap akar masalah dan cara mengatasinya. Mascarita menjadi indigenis fanatik yang tidak hanya bermasalah dalam hal pandangannya, akan tetapi juga cara memperjuangkan cita-citanya. Dia tidak membangun gerakan sosial dari dalam masyarakat adat untuk memperjuangkan keberlangsungan hidup dan tuntutan akan kedaulatan yang lain. Dia memilih untuk mengabaikan proses-proses saluran politik dan perjuangan kolektif yang seharusnya dapat ditempuh. Hal seperti itu yang pada akhirnya dilakukan oleh masyarakat adat setelah tahun 1980an.

Kegagalan Mascarita ini adalah kemampuan Llosa untuk menempatkan kondisi objektif dalam novelnya. Novel ini berlatar tahun 1940-1960an, di mana gerakan masyarakat adat belum terkonsolidasi dan belum menemukan strategi yang mumpuni dalam proses perjuangan.

Sementara Matos Mar dan “Aku” yang memiliki pandangan progresif, juga gagal seperti halnya Mascarita. Matos Mar tetap menjadi dosen di Univesitas San Marcos, sedangkan “Aku” setelah melanjutkan kuliah s2 di Eropa, kemudian menjadi penulis serial acara TV, dan selanjutnya tetap menjadi intelektual. Mereka tidak membangun atau bergabung dalam gerakan politik untuk memperjuangkan cita-cita mereka.

 

Daftar Pustaka:

Breton Solo de Zaldivar, V. (2008). From agrarian reform to ethnodevelopment in the high- lands of Ecuador. Journal of Agrarian Change 5(4): 583-617. http://dx.doi.Org/10.l 1 1 1 /j. 147 1-0366.2008.00 18

Burkholder, Mark A. & Lyman L. Johnson. (2014). Colonial Latin America. Oxford: Oxford University Press.

D’Andrea, Cloudia. (2013). Kopi, Adat, dan Modal: Teritorialisasi dan Identitas Adat di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah. Yogyakarta, Bogor, & Palu: Penerbit TAB, Sajogyo Institute, & Yayasan Tanah Merdeka.

Kay, Cristóbal. (2015). The Agrarian Question and the Neoliberal Rural Transformation in Latin America. European Review of Latin American and Caribbean Studies / Revista Europea de Estudios Latinoamericanos y del Caribe, No. 100, 50th Anniversary Special Issue: New Directions in Latin American and Caribbean Studies (December 2015), pp. 73-83.

Subono, Nur Imam. (2017). Dari Adat ke Politik: Transformasi Gerakan Sosial di Amerika Latin. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

Veltmeyer, H., & Petras, J. (2014). The New Extractivism: A post-neoliberal development model or imperialism of the the twenty-first century?. London: Zed Books.

Vergara-Camus, L. (2014). Land and freedom: The MST, the Zapatistas and peasant alter- natives to neoliberalism. London: Zed Books.

[1] Salah satu dari cabang ilmu antropologi, yang mempelajari berbagai suku bangsa dan aspek kebudayaannya, serta hubungan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Kata “etnologi” berasal dari kata etnis, yang berarti suku bangsa.

[2] istilah yang berasal dari bahasa Spanyol yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang berdarah campuran Eropa dan non-Eropa.

[3] Indigenous Peoples dalam bahasa Indonesia juga dapat diartikan sebagai masyarakat pribumi, masyarakat asli, dan masyarakat lokal. Akan tetapi padanan kata yang digunakan oleh gerakan sosial di Indonesia untuk Indigenous Peoples adalah masyarakat adat dibanding dua pengartian lain di atas. Itu terkait konteks sosial dan politik yang berkembang di Indonesia.

[4] sebutan untuk wilayah benua Amerika yang sebagian besar penduduknya merupakan penutur asli bahasa-bahasa Roman (terutama bahasa Spanyol dan bahasa Portugis) yang berasal dari bahasa Latin.

Leave a Reply