Poster Diskusi Pemberantasan Korupsi, Meme dan Gerakan Sosial

Dua kali sudah Setya Novanto dipanggil KPK sejak November 2017 lalu. Panggilan ini tidak lain lantaran keterlibatannya dalam kasus korupsi E-KTP yang disinyalir menimbulkan kerugian negara yang mencapai Rp 2,3 Trilliun. Namun, dua kali sudah dia juga mampu lepas dari proses hukum yang berjalan. Berbagai macam dalih dimainkannya, mulai dari sakit parah hingga mengalami kecelakaan mobil. Drama rendahan yang terlihat penuh rekayasa ini tentu menuai banyak reaksi dari masyarakat. Di media sosial, pembuatan meme penuh sindiran pun oleh warga net menjadi hal yang paling deras mencuat belakangan ini.

Skandal korupsi E-KTP menjadi salah satu dari kasus korupsi terbesar pasca jatuhnya Orde Baru. Walaupun begitu, hingga saat ini belum timbul perlawanan dan aksi massa yang besar yang menuntut penegakan tuntas kasus korupsi yang melibatkan elit politik. Seperti yang terlihat, masyarakat justru lebih memilih membagikan meme sindiran ketimbang turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan dan tuntutan mereka. Fenomena ini bertolak-belakang dengan kasus yang membawa sentimen agama yang justru mampu menggerakan ribuan orang untuk turun ke jalan. Padahal kasus korupsi memiliki implikasi nyata terhadap kehidupan bernegara, seperti terbengkalainya hak-hak sosial dan politik masyarakat.

Apa yang menjadikan gerakan di sosial media seperti meme meningkat akhir-akhir ini? Apakah maraknya pembuatan & penyebaran meme belakangan ini mampu menjadi saluran partisipasi politik yang baik bagi masyarakat? Apakah dengan gerakan melalui meme ini membuat metode penyadaran, pengorganisasian, dan aksi massa secara offline menjadi dianggap sudah tidak relevan lagi? Apa implikasinya terhadap kesadaran politik massa serta konstelasi kekuasaan? Serta bagaimana langkah yang dapat ditempuh untuk mendorong gerakan pemberantasan korupsi dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik?

Leave a Reply