MAP Corner 18 April

Setiap 21 April, kita merayakannya sebagai hari kelahiran Raden Ajeng Kartini. Di Indonesia, Kartini dikenal secara umum sebagai sang “emansipator perempuan” karena pemikiran-pemikirannya yang progresif, yang menuntut pembebasan perempuan dari tradisi patriarki dan kemerdekaan atas kolonialisme. Namun sekarang, Hari Kartini secara umum dirayakan bukan sebagai emansipator perempuan. Hari Kartini justru dirayakan untuk menunjukkan citra perempuan Indonesia yang tertib, santun, dan penurut. Saat peringatan hari Kartini, masyarakat memaknainya sebagai parade busana kebaya dan proses jawanisasi lainnya.

Reproduksi terhadap pemaknaan perjuangan Kartini masih terus terjadi sampai sekarang. Namun di era paska-reformasi seiring dengan mulai terbukanya ruang demokrasi, pemaknaan terhadap perjuangan Kartini juga terus mencoba dilakukan. Semangat perjuangan emansipasi perempuan menentang ketidakadilan salah satunya dilakukan oleh para perempuan di Pegunungan Kendeng dalam menentang ekspansi pabrik semen. Identitas ‘Kartini Kendeng’ digunakan oleh gerakan perempuan tersebut. Geliat perempuan yang terlibat dalam gerakan dan perjuangan juga terus mengemuka dan semakin beragam. Bagaimana citra dan identitas Kartini dipandang dalam sejarah di Indonesia? Apa yang menyebabkan terjadinya depolitisasi terhadap sosok Kartini? Apa pengaruhnya terhadap pergerakan perempuan baik di masa lampau maupun masa kini? Bagaimana dinamika pergerakan perempuan di masa kini? Apa transformasi yang terjadi dibanding dengan gerakan yang dilakukan Kartini? Dan apa implikasi dari transformasi tersebut?

Untuk mendiskusikan berbagai pertanyaan diatas, maka MAP Corner-Klub MKP akan mengadakan diskusi publik dengan tema “Api Kartini & Gerakan Perempuan Kontenporer” pada Selasa, 18 April 2017 pukul 15.00 wib. Dalam diskusi MAP Corner Klub MKP ini akan dipantik oleh Anna Mariana (Peneliti Ethnohistori) dan Fullah Jumaynah (Komite Perjuangan Perempuan).

Leave a Reply